Sunday, 10 February 2013

SAJAK CINTA DI KUALA LUMPUR








Kutulis sajak ini
Ketika hujan berderai
Kupilih saat sunyi
Waktu angin membelai
Berat kabus di bumbung menara
Renyai gerimis di kelopak mata:

     Seketika sukmaku membayang
     Desa sayup berbalam
     Masihkah ke sawah
     Wargamu yang ramah
     Masihkah ke segara
     Wargamu yang perkasa.

Segalanya kini
Berhimpun kembali
Di gua ingatan
Segalanya kini
Berkumpul kembali
Di padang kenangan.

Angin bagai menyusur aspal
Menyusup ke jendela
Dan singgah di hati
Di sini kehidupan keras
Arus peradaban deras
Kita berlari bagai pemburu lelah
Mengejar hari
Memintas waktu
Penentu berdiri atau rebah.

Di sini kehidupan lakarnya bersilang
Gamatnya menggugah akur
Perlumbaan menyentak jiwa luhur
Dan kita bak petualang
Di tengah perebutan
Seakan tanpa kasihan.

Desaku
Aku selamanya memilih caramu
Kau taman bertatah permata
Desaku
Masih aku menyayangi budayamu
Kau beranda berpagar cinta
Tanpa membenci kota ini
Kutuliskan sajak
Benarlah, rinduku sarat dan meronta.

~Selina S.F Lee
  UPM, Serdang
  1992.

  Sumber: Buku 'Bagai Layang-layang' (Antologi Puisi).