Monday, 19 November 2012

PANTUN BERKASIH (2)












Pohon sawa di tanah pamah,
Buah dikait bergunting besi,
Mari bertakwa di bawah KALIMAH,
Biar syahid digamit Firdausi.

Duduk berapat puteri ratu,
Menyusun melati indahnya nyata,
Kalau tak dapat bulan yang satu,
Bintang menanti berjuta-juta.

Rajawali lelayang merbah merpati,
Juga kedidi balam berterbangan,
Sekali sayang bercambah di hati,
Moga abadi dalam kenangan.

Baunya hangit getah diobor,
Ganti pelita budak mengaji,
Di bawah langit bintang bertabur,
Di situ kita meneguh janji.

Bawa senjata memburu rusa,
Rimba diredah Tengku Mahkota,
Bila CINTA menawar rasa,
Bisulah lidah mengukir kata.

Kayu meranti di tengah segara,
Sangkut di karang teritip merata,
Rindu di hati tidak terkira,
Terkenang orang jauh di mata.

Sayang Mak Inang asyik menampi,
Puteri membaca kitab ramalan,
Siang terkenang malam termimpi,
Wajahmu berkaca dalam khayalan.

Di puncak gunung Pulau Kencana,
Bersarang tupai dua sebaya,
Bulan kurenung wajahmu di sana,
Hajat nak capai tiada upaya.

Pergi ke huma membawa raga,
Mencari temu di pinggir tubir,
Ketika purnama bertabir mega,
Bagai senyummu di balik tabir.

Datuk Hang Jebat mengaku raja,
Sambil bersenda berwajah garang,
Kasih tertambat padamu saja,
Rasa tak ada lain orang.

Anak gajah di tengah huma,
Belalai direndam di dalam air,
Seri wajah bagai purnama,
Membawa ilham kepada PENYAIR.

~Abdul Halim "R"
  (Setaman Pantun Kenangan)